Memaknai duka,mewarnai suka

Artikel berikut untuk para Alumni SMA(+)Muthhahari,serta manusia yang ingin senyumnya menjadi surga dihari kelak…

“Duka tak sebesar duka Hussain
Tangis tak sepilu tangis Hussain
Darah tak semerah darah Hussain
Jiwa tak seindah jiwa Hussain
Darah Hussain, Jiwa Hussain, berartikah?
Wa Hussaina, wa Ghoriba, Wa Syahida”

adalah syair yang sering dibacakan di sebuah peringatan acara keagamaan yang disebut “asyura”

Imam Hussain,seorang yang sangat mulia baik di mata manusia maupun di mata Allah,bahkan di mata umat beragama lain,mengapa?,karena beliau adalah orang yang sujudnya berlinang air mata,senyumnya membawa berkah,ibadahnya membawa ridho,syafaatnya membawa surga…
siapakah dia?sang mahkluk mulia,yang darahnya bercucuran di karbala(secara harfiah artikan karbala sebagai tanah duka),sang hamba yang tangannya mengulur pada hamba tak berharta,Imam Hussain As. yang kepadanya Kecup kecintaan seorang kakek(Rasulullah SAW)menaungi lehernya yang suci yang dipenggal oleh makhluk tanpa nurani,iblis dalam hati manusia..Laknatullah Muawiyyah…

selama ini kita berduka akan materi,bersuka ria akan maksiat…(termasuk saya sendiri)

Imam Hussain adalah contoh yang suka dan dukanya menjadi jembatan menuju sang Pencipta…

tanpa air dengan dahaga menemani di karbala beliau terus beribadah kepada yang kuasa,itulah suka..saat kita mencintai Zat yang mencintai makhluknya….seperti itulah kecintaan sang Imam terhadap sang Kuasa… itulah suka yang sesungguhnya…

dengan harta kita menimbun terus kekayaan,jabatan,tahta…saat kita mencintai sang berhala yang disebut harta kekayaan,itulah duka yang sesungguhnya…

hmmm,biapun kayaknya ghifar masih sangad tidak pantas mengucapkan kata2 diatas ghifar cuma ingin menyampaikan…apakah duka kita sudah seperti Imam Hussain saat keluarganya dibantai di depan matanya??atau hanya duka karena ditinggal kekasih tercinta?karena kehilangan harta berharga?

apakah suka kita sudah seperti sang Imam waktu beliau sadar akan menemui yang Maha Kuasa?ataukah suka saat kekasih menemui kita?

Warnai suka dengan ibadah,maknai duka dengan senyuman…

~ oleh theshieldoftheworld pada Mei 15, 2008.

2 Tanggapan to “Memaknai duka,mewarnai suka”

  1. – ODE UNTUK GHIFAR –

    Dunia berputar oleh Hidup

    Hidup berputar oleh waktu

    Waktu berputar oleh Keos

    Keos berputar oleh manusia

    Manusia berputar oleh Kematian

    Setelah Kematian ada Hidup

    Setelah Hidup ada Mati

    Terus Berputar tanpa henti

    Setelah awal ada akhir

    Setelah akhir ada awal

    Terus berputar tanpa ampun

    Seorang ksatria bertanya pada Sang Dewa:

    “Setelah hidup berakhir, dimana aku akan berada ?”

    Sang Dewa berkata:

    “Kamu akan berada pada hidup yang lain.”

    Ksatria bertanya lagi:

    “Dimanakah hidup yang lain itu berada ?”

    Sang Dewa menjawab:

    “Ditempat dimana kamu selalu Mengawali segalanya.”

    Ksatria bertanya sekali lagi:

    “Hidup begitu singkat, setelah Mati akan ada kehidupan singkat lagi, katakan wahai Dewa ! Bagaimana caranya agar hidup yang singkat ini menjadi berharga ?

    Sang Dewa menjawab:

    “Jadilah perisai bagi dunia.”

    Ksatria berkata:

    “Perisai bagi dunia ? Tetapi perisaiku tidak cukup besar untuk melindungi dunia ini wahai dewa !

    Sang Dewa menjawab:

    “Manusia memiliki tiga dunia, dunia yang pertama adalah dirinya sendiri, dunia yang kedua adalah orang – orang yang berharga bagi dirinya sendiri, dan dunia yang ketiga adalah tujuan hidupnya.”

    – FIN –

    Taken from the ancient script called my ‘brain’

  2. salam ustadz ghifar,
    pa kabar ustadz?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: